ElektraNews.Com - Majalah Elektra

 

November 05, 2012 18:00

Profesi kedua

 

 

Dalam hidup yang cuma 95 tahun itu, dapat digolongkan kedalam beberapa fase. Umur TK, SD, SMP, SMA, Kuliah adalah fase untuk mempersiapkan diri (selama 20 tahun) untuk profesi pertama dalam hidup. Fase selanjutnya adalah profesi pertama yang dijalani dari umur 25 tahun sampai umur 55 tahun. Fase selanjutnya adalah fase profesi kedua yang seringkali tidak banyak berhubungan dengan profesi pertama.

Profesi pertama banyak ditentukan oleh lulus di jurusan apa di perguruan tinggi. Ditentukan oleh diterima di pekerjaan atau perusahaan apa. Sedangkan profesi kedua lebih ditentukan oleh suatu profesi yang benar-benar sesuai dengan jiwa, hobi, minat dll.

Beberapa jenis pekerjaan menjamin bahwa pekerjaan pertama tersebut dapat dilanjutkan sampai mati. Misalnya seorang dokter, akan tetap menjadi dokter sampai mati. Namun sebahagian besar profesi tidak menjamin hal ini. Beberapa profesi memberi peluang lain yang tidak jauh beda keahliannya dengan profesi pertama. Misalnya guru praktek mesin di STM, setelah pensiun bisa buka bengkel las atau bengkel mobil. Guru agama bisa melanjutkan profesi jadi ulama, buya, ustad dll setelah pensiun, dsb.

Beberapa orang menjalani profesi mandiri misalnya pedagang, pengusaha, dll, profesi ini mungkin menjamin bisa dilanjutkan sampai mati dan tidak ada istilah pensiun di usia 55 tahun. Dan mungkin tidak perlu mempersiapkan profesi ke dua. Hanya saja, setelah melakukan kegiatan usaha selama 20 tahun lebih, dari 100 orang, akan ada 100 orang yang pernah merasakan bangkrut, kolaps, hampir bangkrut, termasuk perusahaan besar sekelas kongkomerat. Manimaren Sinifasan bos Texmaco, bunuh diri karena tidak kuat menghadapi kebangrutan perusahaannya. Lebih separo pemilik bank, akhirnya jadi buronan dan narapidana karena bank milik mereka kesulitan keuangan karena krisis ekonomi tahun 1998, padahal krisis itu bukanlah kesalahan mereka.

Banyak orang yang hidupnya justru lebih bearti di profesi ke dua dibanding profesi pertama. Mahatma Ghandi adalah pengacara di afrika selatan, tapi profesi keduanya adalah pejuang kemerdekaan. Yusuf Kalla adalah pedagang, tapi kemudian jadi politikus. SBY adalah tentara, tapi kemudian jadi presiden setelah pensiun. Gusdur adalah ulama tapi kemudian jadi politikus.

Meskipun demikian jauh lebih banyak orang yang hidupnya menjadi kurang ber-arti karena profesi kedua-nya tidak sehebat profesi pertamanya. Banyak orang di Payakumbuh adalah tentara, pegawai caltex, tapi jadi petani, kusir bendi, pedagang dan pekerja lepas setelah pensiun. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya persiapan diri untuk sebuah profesi kedua, padahal untuk profesi pertama saja, orang butuh waktu 20 tahun dari TK, SD, SMP, SMA dan kuliah, hanya untuk mendapatkan profesi pertama saja.

Karena sebahagian besar perusahaan, instansi, pekerjaan dan profesi, tidak menjanjikan apa-apa kecuali uang pensiun yang jumlahnya sedikit, maka tentu diperlukan persiapan diri sendiri dari setiap orang untuk sebuah profesi kedua. Persiapan ini bisa berupa apa saja. Bisa kuliah S2 sebagai bekal kalo nanti pensiun, bisa jadi dosen swasta. Bisa memulai usaha sampingan untuk nanti diteruskan full time setelah pensiun. Itu terserah anda.

Hanya saja, dilema saat ini, setelah orang berumur 40 tahun dan sedikit sukses, mereka beranggapan bahwa kesuksesan yang sedikit itu adalah abadi. Sehingga mereka terjebak dalam kesombongan seperti katak yang ada di bawah tempurung dan tempurung itu berada di tengah jalan tol, tinggal nunggu digilas truk.

Jika rekan-rekan saya berumur antara 40 s/d 45 tahun, bearti ada waktu belasan tahun untuk mempersiapkan sebuah profesi kedua yang umumnya lebih ditekuni sepenuh hati karena umumnya sesuai dengan panggilan jiwa. Tidak perlu contoh terlalu jauh. Apa yang dilakukan orang tua kita atau orang tua rekan-rekan kita atau guru-guru kita yang sudah pensiun dalam mengisi usia di atas 55 tahun. Ini adalah cermin yang baik. Toh 15 tahun lagi kita akan sampai pada kondisi ini.

Tidak dibutuhkan waktu lebih dari 5 menit untuk merenung dan mememukan apa profesi yang paling kita inginkan untuk kita lakukan nanti. Tersedia waktu belasan tahun untuk mempersiapkannya. Tersedia banyak teman dan orang tua teman untuk bertanya.

Hidup adalah perubahan. Banyak di antara kita yang mempunyai profesi berbeda atau bekerja di tempat berbeda dengan sebelum tahun 1998 dulu. Tidaklah mustahil terjadi perubahan dalam belasan tahun ke depan. Termasuk oleh pegawai negeri. Departemen sosial saja pernah dibubarkan. Dll. Tapi dengan sebuah persiapan yang baik, semua masalah akan dapat di hadapi. Persiapan ini juga akan membawa kita kepada sifat kalem, tidak sombong, tidak boros, dll.

 

Info :

 

 

 

 

 

 

 

           Home           

           Sitemap & Artikel Lainnya           

 

 Powered by 

 mesinantrian.com 

 hitech-plaza.com 

 hitechindonesia.com