ElektraNews.Com - Majalah Elektra

 

November 05, 2012 18:01

Cara Produktif 2,5 Shift Sehari, 7 Hari Seminggu

 

 

 

 

Semua orang menghabiskan waktu 24 jam sehari, tapi kebanyakan orang hanya produktif (menghasilkan uang) 1 shift (8 jam kerja) sehari. Namun banyak upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk dapat lebih produktif, misalnya bekerja 18 jam sehari.

 

Saya menamatkan SMA di sebuah kota kecil sekali yang bernama Payakumbuh. Dari Medan, 18 jam perjalanan naik bus ke Bukit Tinggi dan dari Bukit Tinggi ke Payakumbuh masih 1 jam perjalanan naik bus kecil. Dari kota Payakumbuh ke rumah orang tua saya, harus naik bendi, sejenis kendaraan aneh yang ditarik kuda selama 20 menit perjalanan. Di Medan saya kos Gang Senina no 15, dibelakang tembok asrama putri USU, sebuah rumah kecil yang dibagi jadi 6 kamar dengan lebih dari 10 orang anak kos dengan satu kamar mandi bersama dan listrik 450VA untuk semua orang.

Setelah beberapa hari kos, saya menyadari bahwa suasana amat sangat berisik antara jam 6 sore sampai jam 9 malam. Banyak yang bernyanyi-nyanyi, ngerumpi, main kartu dan banyak hal lain, sehingga tidak mungkin ada hal bermanfaat yang bisa dilakukan termasuk belajar. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur setelah selesai shalat magrib sekitar jam 6 sore sampai jam 10 malam. Jam 10 malam saya bisa mengerjakan banyak hal bermanfaat termasuk belajar.

 
Pada waktu bekerja di Jakarta, saya jumpai masalah yang hampir sama. Jika berangkat kerja jam 6 pagi, akan sampai di kantor jam 9 pagi dan jika berangkat dari kantor jam 5 sore, maka akan sampai di rumah jam 8 malam. Disamping karena macet, di Jakarta, umumnya orang berkantor lebih dari 25 km dari rumah. Saya tinggal di condet Jakarta Timur sedangkan saya pernah bekerja di Roxi Jembatan Lima, Jalan Samanhudi, Rawamangun dan Cileungsi, semuanya lebih dari 25 km dari rumah saya. Banyak orang lain memutuskan naik sepeda motor, walaupun punya mobil pribadi atau mobil dinas karena naik sepeda motor akan lebih cepat sampai dibandingkan dengan naik mobil.

 
Karena saya sudah terbiasa melakukan rutinitas yang tidak biasa di Medan yaitu tidur sesudah jam 6 sore, maka di Jakarta saya juga melakukan hal yang hampir sama. Waktu pulang dari kantor jam 5 sore, saya tidak pulang, tapi mandi, makan dan tidur di kantor. Waktu bekerja di pabrik, ada banyak tempat untuk tidur, misalnya di mushalla, di gudang, di ruang genset. Kondisi yang hampir sama juga saya lakukan waktu saya bekerja di pengelola gedung bertingkat / Mall. Kantor di pabrik dan gedung bertingkat relatif buka 24 jam dan di dua tempat itu relatif ada banyak tempat untuk istirahat, termasuk di ruang mesin lift di lantai atap. Waktu bekerja di kontraktor di ruko, saya tidur di masjid di dekat kantor, karena kantornya hanya buka pada jam kerja dan tidak ada fasilitas teknis seperti ruang lift, ruang genset, dll yang dapat dipakai untuk tidur. Setelah istirahat / tidur sampai jam 9 malam, barulah saya pulang ke rumah dengan jarak lebih dari 25 km. Ini bisa ditempuh 30 menit karena sudah tidak macet lagi.

 
Sesampai saya di rumah, saya sudah segar dan tidak perlu tidur karena sudah tidur sekitar 3 jam. Saya bisa melakukan aktifitas produktif di rumah sampai jam 3 pagi. Jam 3 pagi saya berangkat ke kantor dan hanya butuh waktu 30 menit karena tidak macet. Tentu lagi-lagi saya tidur di kantor sekitar 3 jam. 30 menit sebelum jam masuk kantor, saya bangun, mandi, sarapan, dll, dan bekerja dalam kondisi sangat segar dan tidak kelelahan karena mengemudi berjam-jam ditengah macet.

 
Tentunya syarat utama dalam kondisi saya di atas, adalah tersedianya pekerjaan sampingan yang produktif dan mengarah ke menghasilkan uang. Umumnya ini bukanlah pekerjaan kantor tempat saya bekerja karena umumnya karyawan sudah ditetapkan untuk dibayar dalam jumlah tertentu walaupun ia produktif atau tidak. Ada banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan yang bisa digolongkan kepada pekerjaan sampingan.

 
Hal lain yang mendukung kondisi saya di atas adalah karena saya tidak menggunakan sarana angkutan umum karena biasanya angkutan umum sulit di dapat jam 9 malam dan jam 3 pagi. Meskipun demikian, untuk ukuran Jakarta, angkutan umum tersedia hampir 24 jam walau pada malam hari waktu menunggu akan lebih lama.

 
Kondisi di atas juga di dukung karena saya bekerja di pabrik atau gedung bertingkat yang banyak tempat-tempat teknis yang bisa dijadikan tempat tidur seperti ruang genset (genset standby). Namun saat saya bekerja di kontraktor yang ada di ruko, saya menemukan masjid yang tidak dilarang tidur, walau umumnya masjid di jakarta dikunci di luar jam operasional dan banyak yang melarang orang tidur sembarangan.

 
Sekilas, upaya diatas tidaklah keren. Saya juga lebih sering tidur di dalam mobil setelah parkir di tempat sepi. Saya sering juga tidur di atas karpet di kolong meja kerja saya di kantor. Semua ini lebih mirip gelandangan. Namun dengan upaya di atas, saya bisa lebih produktif dan melakukan hal-hal yang bisa disebut sebagai usaha sampingan, atau produktif yang menghasilkan uang. Tidak semua orang menemukan kombinasi peluang di atas, misalnya kemungkinan untuk bisa mandi di kantor, dll, tapi semua orang akan menemukan caranya sendiri untuk bisa lebih produktif, dibandingkan dengan membuang umur 3 jam pagi dan 3 jam sore hanya untuk menembus macet Jakarta, terus menerus selama 30 tahun.

 
Dengan terpenuhinya syarat utama di atas, yaitu ada hal produktif yang menghasilkan uang yang bisa dikerjakan, maka sabtu minggu yang libur kantor juga akan menjadi hari produktif dibandingkan dengan melakukan hal-hal yang membuang waktu, apalagi dalam jam kerja, misalnya membaca tulisan ini.........
 

 

Info :

 

 

 

 

 

 


 

 

           Home           

           Sitemap & Artikel Lainnya           

 

 Powered by 

 mesinantrian.com 

 hitech-plaza.com 

 hitechindonesia.com